Satu Porno, Semua Parno

0
25

Nama saya Sujarwo Wijiatmoyo asal dari Purwokerto, tapi bisa dipanggil Mbah Jarwo. Saya biasanya dimintai petuah atau wejangan oleh masyarakat agar sukses, padahal hidup saya sendiri ndak sukses. Hehehe..dasar wong ndeso! Kalau mau sukses ya usaha!

Sabtu kemarin, saya pergi ke Jakarta dalam rangka memenuhi panggilan untuk menjadi hakim dalam sidang kasus korupsi Angie. “wah, lumayan bisa mejeng muka di TV..” dalam pikiran saya. Sampai di Jakarta, kawan kawan aktivis justru sedang heboh mendiskusikan satgas anti pornografi atau apapun lah itu namanya. Saya pun bingung, memang benar-benar bingung mau bicara apa. “Apa saya salah denger waktu dipanggil ke Jakarta? Perasaan, suruh ngurusi kasus Angie, ini kok malah pornografi?” hati kecil saya berbisik. Tapi, kemudian saya larut dalam diskusi yang cukup panas itu. Porno itu kan subjektif, terus bagaimana cara memberantasnya? Wong yang jelas-jelas objektif seperti korupsi saja ndak pernah tuntas.

Saya jadi teringat pada suatu ketika, di Jakarta pernah ada juga (mungkin sampai sekarang masih berlaku) aturan untuk tidak merokok di tempat umum. Kalau ada yang melanggar peraturan ini akan disidang di tempat. Algojonya itu Satpol PP. Tapi pada kenyataannya sang algojo yang mulia malah ikutan ngerokok, itu sangat payah.

Kembali lagi ke kasus satgas pornografi. Kasus? Lah memangnya mereka salah apa? Oh, saya keliru, maksud saya kembali lagi ke calon kasus satgas anti pornografi. Saya yakin kalau sebenarnya orang-orang yang membuat rencana ini bermaksud baik, untuk melindungi kita semua dari tindakan pelecehan seksual atau bahasa kerennya digerepe-gerepe. Namun, karena rakyat Indonesia ini sudah pintar semua, maka salah memaknai sedikit, masalah bisa jadi rumit. Teman saya, Sal, menilai kalau aturan ini melanggar hak asasi manusia (HAM) untuk memamerkan pahanya.

Suatu hari, ada teman cucu saya yang cantik, Popskii, pergi ke kampus dengan memakai rok mini. Saat pulang kuliah, di dalam angdes (angkutan desa), pepek dan teteknya diremes-remes sama si Suman, supir angdes yang sudah seharian belum dapat setoran. Kalau sudah digerepe-gerepe, baru Popskii melapor ke petugas kalau paha ini hanya untuk dilihat tidak untuk disentuh. Tantekul bilang “dasar pikiran kotor! Baru liat pahaaja langsung nepsong..”  Suman berkilah “maaf tadi saya khilaf”. Yah, bagaimana orang  saya seharian saja belum dapat setoran, gimana pikirannya tidak khilaf? Logikanya, orang yang lapar akan susah berpikir benar, kelakuannya ngawur cenderung kurang ajar, ..wong laper kok suruh membela kebenaran! Jadi yang salah itu membuka pameran paha atau yang punya pikiran kotor?

Saya jadi merasa ngeri sendiri kalau nanti bertemu cucu di tempat umum, saya peluk dia, akan ditangkap karena dianggap adegan porno. Lebih kasihan lagi, orang-orang yang kamar mandinya terpisah dari rumahnya, sehabis mandi jalan ke rumah pakai handuk doang, malahan ditangkap karena dianggap menggoda si Iman.

Wah, saya lupa harus ngurusi mbak Angie di ruang sidang…

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here